Apa Arti Sebuah Kemapanan??
Monday, August 21st, 2006Ternyata itu perjalanan yang melelahkan.
Ternyata itu semua diluar rencana.
Entah itu berantakan atau tidak.
Entah aku tak menyalahkan siapa-siapa.
Jakarta-Cimahi-Cililin-Kopo-Garut…
Entah berapa ratus kilo telah di tempuh
Entah kenapa lelah itu hilang?
Terkesan sedikit memaksa, sampai Garut sembilan malam.
Terkesan tak sopan bertamu datang malam.
Terkesan acuh dan tak diharapkan…
Seperti di kejar waktu, hanya berpapasan dan pergi lagi.
Tak ada basa basi tak ada saling kenal…
Seperti kepalsuan dengan seribu sapa dan senyum.
Mereka serasa enak di ajak bicara…
Kembalilah ke pusat negeri, aku dan temanku.
Kembali tanpa berhasil dengan tujuan pasti.
Tidak membawanya bersamaku.
Kekecewaan merasuk di seluruh hati dan aliran darah.
Kegelisahan menyelimuti jiwa raga.
Hari berlipat dan berpindah…
Kujenguk dan kutanya tentang kita, aku dan kamu, dan tentang mereka.
Itu adalah jawabannya!
Aku hanya bisa bicara:
"Aku mungkin bukan ikan-ikan yang berenang melawan arus sungai.
Dan Aku tidak ingin seperti dedaunan yang lemah, gugur jatuh ke sungai dan terhanyut hingga ke muara."
"Katakanlah hatiku adalah hatimu!"
"Seperti berjalan di jalan yang lurus dan tak berujung, sepi dan dingin"
"Temanilah aku saat kutemui kamu di ujung jalan ini"
"Air mata tak bisa berdusta, saat ia bahagia, saat ia duka"
"Serahkan dan pasrahkan saja semua pada-Nya"
"Percayakan dan do’alah kepada-Nya"
"Katakanlah hatiku adalah hatimu!"
"Di dunia tak ada yang abadi, semua hilang, semua mati"
"Diciptakan-Nya saling berpasangan"
"Atas bawah, Baik Buruk, Susah Senang, Canda Gelisah, Suka Duka, Halal Haram"
"Tapi bukanlah abu-abu yang aku pilih"
"Hari ini tak sama Esok hari"
"Cerita ini tak sama cerita itu"
"Kisah lama tak sama kisah baru"
"Semua berputar, semua seperti lingkaran"
"Mungkin hari ini kalah, entah esok aku menang"
"Mungkin hari ini aku fakir, entah esok aku tersohor"
"Tak ada yang pernah tahu kehendak-Nya, karena kita hanya mampu berencana"
Biarlah sebuah pertanyaan menderu:
Apalah arti sebuah kemapanan?
Dimanakah letak sebuah kemapanan?
Maukah tua saat datang kemapanan?
Sekaratkah tanpa kemapanan?
Dimanakah batas kemapanan?
Jika tempatmu berkata "Dia belum mapan"
Ijinkan aku bertanya kembali seperti cermin…
"Dimanakah letak kemapanan itu?"
Mahluk ini tak ada yang sempurna,
Biarlah kita saling menutupi kekurangan,
Karena lebih-kurang biar kita yang mengisi.
Biarlah kita saling berbagi…
Kemapanan Moral,
Kemapanan Mental,
Kemapanan Finansial.
Maaf jikalau aku belum memiliki ketiganya,
Maaf jika aku belum memenuhi kemapanan itu,
Maaf untuk sesepuh dan orang tua yang menyayangimu…
Tapi jangan hardik mereka,
Jangan salahi mereka,
Jangan hukumi mereka,
Biarlah terbuka hati mereka…
Biarlah cukup aku yang menghela nafas.
Mungkin belum cukup waktu saat itu.
Jika ingin sudahi, Sudahilah…
Selesaikanlah…
Jangan siksa diri kamu hanya karena cinta…
"Katakanlah hatiku adalah hatimu!"
"Apalah Arti Sebuah Kemapanan?"
"Maafku untuk ibu dan keluargaku"
"Maafku untuk bapak dan mamah di Malangbong"
"Maafku untuk teman-temanku"
"Maafku andai itu gagal…"