Lelaki Tua dan Kuda Besi

Terlihat matanya berkaca-kaca, Aku ngga berani memandangnya saat lelaki tua itu dengan berat hati melepas kuda besinya yang biasa dia gunakan untuk membantu menafkahi keluarganya. Dia merasa susah, sedih dan tak ada lagi yang bisa diandalkan.  Usia nya 60 tahun dah masih tampak gagah. Semua anak perempuannya pergi jauh darinya hanya tinggal istri dan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMA yang jadi temannya.
Dia seorang lelaki tua namun tak renta. Tampak gagah di luar tubuhnya, namun cobaan sedang menerpa hidupnya. Entah kenapa aku setega itu untuk menarik kuda besinya. Aku tahu kalau lelaki itu belum berhak sepenuhnya untuk memiliki kendaraan itu, karena suatu alasan. Kini sudah Tak ada sandaran untuk meneruskan hidupnya…
Aku tak banyak berkata, biarlah Namus, sahabatku yang bertutur kata memberi alasan demi sebuah kebaikan. Setengah merasa bersalah dan meski berat untuk mengatakan, "kita hanya meminjamnya, tapi kalau bapak perlu sesuatu, telepon saya saja". Akhirnya sore itu aku dan Namus membawa sebuah kuda besi kembali ke kandang.
tersisa rasa ingin separuh membantu lelaki itu, tapi itu tak banyak yang bisa ku lakukan karena di satu sisi aku sebagai objek untuk para tuan-tuan dan kemakmuran…
Biarlah sore itu, Tangerang 2 Juli 2006, takkan terulang lagi…

"Maaf ya pak, kami hanya menjalankan tugas, semoga bapak di ganti dengan rezki yang lebih baik dan barokah…"

Leave a Reply