Archive for July, 2006

Lunch of Fortune

Wednesday, July 26th, 2006

Makasih yah, kamu mau temani aku makan siang…
Kamu kok keliatan manis dengan seragam warna merah jambu itu yah??
Jadi tambah suka nih, hehehehe.
Aku suka aja kalo lihat kamu tersenyum…
Aku suka saat kamu bercerita sesuatu…
Aku suka ketika wajahmu ceria saat ada aku…

Kapan-kapan kita jalan-jalan ke Dufan yuk!
Kapan-kapan kita makan malem yuk!
Kapan-kapan kita sarapan bareng yuk!
Kapan-kapan aku kenalin ke orang tua ku yah!!
Kapan-kapan temui aku sama orang tua mu yah!!
Kapan-kapan …

Kapan kita akan bersama lagi??
Jangan pernah bosan denganku yah…
Maafkan aku, mungkin aku khilaf…

Bantu Aku yha…

Thursday, July 20th, 2006

Kenapa sih kamu ragu??
Jangan jawab ngga tau donk!
Aku kan butuh jawaban…

Emang mereka ga bisa mengerti yah??
Kalo memang kamu mau…
Bantu aku istikhoroh yah!!

Semua pasti ada jalan keluarnya…
Bayangan itu memang gelap…
Tapi aku yakin masih tersisa sedikit cahaya untuk kita kok.

Aku ngga mau nantinya seperti lagunya "Nidji" yang liriknya:
"Yakinkan Aku owh Tuhan! Dia bukan milikku, Biarkan waktu, waktu, hapus aku…"
"Sadarkan Aku owh Tuhan! Dia bukan milikku, Biarkan wakut, wakut, hapus aku…"

wah itu sih terlalu pahit untuk dinyanyikan, dan aku gak berharap itu terjadi padaku…
Aku sudah bersyukur pada Allah kalau aku sudah bertemu sama kamu,
Semoga tidak putus di jalan, Semoga kita selamanya…

Sekali lagi aku mohon, Bantu aku yah!!
Semoga kebersamaan kita gak akan sia-sia…

Lelaki Tua dan Kuda Besi

Thursday, July 6th, 2006

Terlihat matanya berkaca-kaca, Aku ngga berani memandangnya saat lelaki tua itu dengan berat hati melepas kuda besinya yang biasa dia gunakan untuk membantu menafkahi keluarganya. Dia merasa susah, sedih dan tak ada lagi yang bisa diandalkan.  Usia nya 60 tahun dah masih tampak gagah. Semua anak perempuannya pergi jauh darinya hanya tinggal istri dan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMA yang jadi temannya.
Dia seorang lelaki tua namun tak renta. Tampak gagah di luar tubuhnya, namun cobaan sedang menerpa hidupnya. Entah kenapa aku setega itu untuk menarik kuda besinya. Aku tahu kalau lelaki itu belum berhak sepenuhnya untuk memiliki kendaraan itu, karena suatu alasan. Kini sudah Tak ada sandaran untuk meneruskan hidupnya…
Aku tak banyak berkata, biarlah Namus, sahabatku yang bertutur kata memberi alasan demi sebuah kebaikan. Setengah merasa bersalah dan meski berat untuk mengatakan, "kita hanya meminjamnya, tapi kalau bapak perlu sesuatu, telepon saya saja". Akhirnya sore itu aku dan Namus membawa sebuah kuda besi kembali ke kandang.
tersisa rasa ingin separuh membantu lelaki itu, tapi itu tak banyak yang bisa ku lakukan karena di satu sisi aku sebagai objek untuk para tuan-tuan dan kemakmuran…
Biarlah sore itu, Tangerang 2 Juli 2006, takkan terulang lagi…

"Maaf ya pak, kami hanya menjalankan tugas, semoga bapak di ganti dengan rezki yang lebih baik dan barokah…"